Wednesday, March 14, 2012

Stat Oil Jamin tidak Langgar Aturan

Rabu, 14 Maret 2012 07:47 WITA | Sulbar Mamuju (ANTARA News) - Perusahaan minyak dan gas Stat Oil menjamin perusahaannya tidak akan melanggar aturan dalam melakukan pengeboran minyak dan gas di Blok Karama perairan Sulawesi Barat. "Tidak akan ada pelanggaran yang dilakukan, karena kami bekerja diawasi aparat keamanan petugas dari kesatuan marinir TNI AL," kata Humas PT Stat Oil Ratna Setya Novianti di Mamuju, Selasa. Ia mengatakan, terdapat pasukan marinir TNI AL di atas GDF Eksplorer yang melakukan pengeboran migas di perairan Sulbar, petugas itu mengawasi tindak tanduk kapal yang melakukan pengeboran tersebut, sehingga tidak akan melakukan tindakan pelanggaran. Menurut dia, Stat oil tidak akan melakukan pelanggaran misalnya melakukan ekploitasi laut dengan menangkap ikan tidak mengusir nelayan atau melarang mereka melaut hanya karena pengeboran migas yang kami lakukan diperairan sulawesi. "Stat Oil tidak akan melakukan pencemaran laut dan tidak akan melakukan aktivitas lainnya yang dapat menimbulkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan di perairan Sulbar," katanya. Ia mengatakan, PT Stat Oil sejak Januari 2012 telah melakukan pengeboran migas di Blok Karama pada satu pengeborannya dan akan melanjutkan pengeboran pada dua sumur migas lainnya. Menurut dia, Stat Oil yang merupakan perusahaan dari Norwegia sebelumnya telah melakukan kontrak kerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan eksploitasi migas di Blok Karama Provinsi Sulbar dengan luas sekitar 3.212 kilometer persegi sejak 2007. Selain itu telah melakukan survei "seismic" tiga dimensi pada tiga sumur migas yang dilakukan pengeboran pada 2008, dan 2009 telah melakukan ekplorasi "drilling" untuk memastikan ada migas atau tidak pada sumur yang akan dibor. Sementara pada 2010 telah melakukan pengurusan dokumen upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL/UPL), dan 2011 menyosialisasikak pelaksanaan pengeboran migas. "Pada 2012 ini dilakukan pengeboran migas maksimum pada kedalaman sekitar 3.500 meter di bawah permukaan laut," katanya. Menurut dia, Stat Oil merupakan perusahaan migas yang memiliki blok migas pada 34 negara dan telah mengelola migas sejak 40 tahun lalu dengan jumlah karyawan mencapai 20 ribu orang di seluruh dunia. (T.KR-MFH/E005) COPYRIGHT © 2012 http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/37219/stat-oil-jamin-tidak-langgar-aturan

"Stat Oil" Bor Sumur Kedua di Sulbar

Selasa, 13 Maret 2012 09:44 WITA | Sulbar Mamuju (ANTARA News) - Perusahaan minyak dan gas PT Stat Oil segera melakukan pengeboran pada sumur migas kedua untuk mencari migas di Blok Karama Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. "PT Stat Oil telah melakukan pengeboran migas di Blok Karama Perairan Sulbar untuk mencari titik migas, sejak Januari tahun 2012," kata Humas PT Stat Oil, Ratna Setya Novianti di Mamuju, Selasa. Ia mengatakan, pengeboran migas yang dilakukan Stat Oil telah dilakukan selama 180 hari, dan telah selesai, sehingga Stat Oil akan melakukan pengeboran migas pada sumur bor kedua yang sudah disiapkan. "Pengeboran migas pada sumur kedua yang telah disiapkan Stat Oil akan disosialisasikan pada tanggal 14 Maret tahun 2012, kepada masyarakat dan pemerintah di Sulbar,"katanya. Setelah sosialisasi itu kata dia, akan segera dilaksanakan pengeboran migas pada sumur kedua tersebut dengan menggunakan teknologi canggih yaitu kapal kapal GSF Ekplorer atau kapal yang berfungsi melakukan pengeboran migas. "Kapal itu akan dibantu empat kapal lainnya melakukan pengeboran pada kedalaman maksimun sekitar 3500 meter dibawah permukaan laut,"katanya. Ia mengatakan, untuk pengeboran sumur migas ketiga Stat Oil akan dilaksanakan setelah pengeboran migas pada sumur kedua ini selesai dilaksanakan, dan waktunya belum dapat ditentukan secara pasti. Menurut dia, Stat Oil yang merupakan perusahaan dari Norwegia sebelumnya telah melakukan kontrak kerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan eksploitasi migas di Blok Karama Provinsi Sulbar dengan luas sekitar 3.212 kilometer persegi, sejak tahun 2007 . Kemudian telah melakukan survey seismic tiga dimensi pada tiga sumur migas yang akan dilakukan pengeboran pada tahun 2008, dan pada tahun 2009 telah melakukan ekplorasi drilling untuk memastikan ada migas atau tidak pada sumur yang akan dibor. Sementara kata dia, pada tahun 2010, telah melakukan pengurusan dokumen upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL/UPL), dan pada tahun 2011 telah melakukan sosialisasi untuk melaksanakan pengeboran migas. "Pada tahun 2012 ini dilakukan pengeboran migas maksimun pada kedalaman sekitar 3500 meter dibawah permukaan laut,"katanya. Menurut dia, Stat Oil merupakan perusahaan migas yang memiliki blok migas pada 34 negara dan telah mengelola migas sejak 40 tahun lalu dengan jumlah karyawan yang dimiliki mencapai 20 ribu jiwa diseluruh belahan dunia. (T.KR-MFH/M019) COPYRIGHT © 2012 http://www.antara-sulawesiselatan.com/berita/37186/stat-oil-bor-sumur-kedua-di-sulbar

Sulbar Jadi Daerah Penghasil Migas

Jumat, 09 Maret 2012 Kepala Dinas Pertambangan Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Agus Salim Tamaudjoe di Mamuju, Kamis (8/3), mengatakan dengan keberhasilan tersebut, Sulbar yang merupakan provinsi terbungsu di Indonesia tidak lama lagi akan menyandang status penghasil migas di Indonesia. "Proses ke penetapan Sulbar sebagai daerah migas telah berlangsung. Kita tinggal menunggu surat keputusan presiden. Kemungkinan SK presiden keluar tahun 2012," ungkapnya. Menurut dia, ditemukannya blok migas di Pulau Lari-larian menjadi berkah tersendiri bagi daerah karena pusat memberi peluang menjadi daerah penghasil minyak dan gas bumi. "Potensi gas yang di kelola Pearl Oil di blok Sebuku telah berhasil untuk dimanfaatkan. Sekarang ini tinggal disedot dari perut bumi untuk kemudian di pasarkan ke PT Pupuk Kaltim melalui jalur pipa Bontang Exsport Manifold,"katanya. Ia mengatakan, BP Migas sangat mendukung itu sehingga Sulbar melayangkan surat kepada Menteri Dalam Negeri dengan menyertakan Permendagri Nomor 43 Tahun 2011 tentang Wilayah Administrasi Pulau Lari-larian karena saat ini Pemprov Kalimantan Selatan tetap ngotot untuk bisa merebut pulau potensial gas itu. "BP Migas dan Pearl Oil secara operasional berkomitmen memberikan manfaat maksimal dalam pengembangan proyek migas tersebut," kata dia Keputusan bahwa seluruh produksi gas dari lapangan Ruby, blok Sebuku dipasok untuk Pabrik Pupuk Kaltim V adalah kebijakan pemerintah pusat yang bertujuan menciptakan ketahanan pangan dengan meningkatkan produksi pupuk. Dia menambahkan, dengan ladang gas blok Sebuku kelak memberikan kontribusi positif peningkatan produksi gas nasional. Hal ini kata dia, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2012 tentang Peningkatan Produksi Minyak Bumi Nasional yang menargetkan produksi minyak dapat mencapai 1,01 juta barel per hari pada tahun 2014. (Ant) Sumber :Sinar Harapan Tags :Berita Daerah

Produksi Gas Sebuku Dijual ke Pupuk Kaltim

Jumat, 09 Maret 2012 06:58 WITA | Sulbar

Mamuju (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, menyampaikan, hasil produksi gas pada Block Sebuku yang diekploitasi perusahaan Pear Oil akan dijual ke PT Pupuk Kalimantan Timur. "Pearl Oil sudah berhasil menemukan gas pada Block Sebuku yang ada di pulau Laria-Lariang, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulbar.

Hasil eksploitasi gas ini 100 persen akan dipasarkan ke PT Pupuk Kaltim,"kata kepala Dinas Pertambangan Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) Sulbar, Ir.Agus Salim Tamaodjoe di Mamuju, Kamis. Menurutnya, perusahaan migas Pear Oil ini merupakan perusahaan asal negara Uni Emirat Arab dan akan mulai mendapatkan hasil paling cepat 2012 dan paling lambat 2013. "Perusahaan ini berhasil menemukan gas. Sekarang ini tinggal sedot gas dari perut bumi untuk dijual ke PT Pupuk Kaltim melalui jalur pipa Bontang Exsport Manifold,"katanya. Ia mengatakan, potensi gas pada Block Sebuku cukup banyak sehingga kelak akan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di daerah. "Hasil produksi gas ini tentu akan memberikan dampak bertambahnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) terlebih untuk Kabupaten Majene dan Pemprov Sulbar. Kabupaten lain pun akan kebagian tetapi jumlahnya tidak sama dengan penghasilan Majene selaku pemilik wilayah,"tutur Agus. Ia mengatakan, pulau Lari-Larian ini menjadi lahan perebutan dengan pemerintah Kalimantan Selatan. "Pemprov Kalsel tetap berupaya merebut pulau potensi gas ini.

Namun, masyarakat Sulbar tentu tidak akan membiarkan daerah ini jatuh ke tangan daerah luar karena pulau Lari-larian resmi menjadi wilayah Sulbar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Mendagri,"ungkap dia. Direktur Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Sulbar Harry Warga Negara, mengatakan, ketika Pearl Oil perusahaan migas dari Uni Emirat Arab telah melakukan eksploitasi di Blok Sebuku dan berhasil, sekitar 30 persen produksinya akan diberikan ke Sulbar. Ia mengatakan, Pearl Oil akan melakukan eksploitasi di Blok Sebuku yang terletak di perairan Sulawesi dan masuk dalam wilayah perairan Sulbar pada 2013.

Menurut dia, dari 30 persen produksi Pearl Oil yang akan diberikan ke Provinsi Sulbar, sekitar 12 persen dari bagi hasil migas untuk Sulbar itu, akan diberikan kepada kabupaten penghasil yakni Kabupaten Majene. Sementara itu, kata dia, pemerintah Sulbar akan mendapatkan sekitar 6 persen dan seluruh kabupaten lain di Sulbar juga akan mendapatkan 12 persen dibagi secara merata. "Bagi hasil migas untuk Sulbar sekitar 30 persen dari gas Blok Sebuku itu diatur dalam Undang Undang Nomor 33 tahun 2009, dan akan dimanfaatkan meningkatkan pembangunan daerah," katanya. Vice President Government Relations Business Support Pearl Oil Taufik Rahardjo di Mamuju, mengatakan, Pearl Oil akan melakukan eksploitasi migas di Blok Sebuku pada awal 2013, setelah melakukan eksplorasi migas di Blok Sebuku sejak 2005.

Ia mengatakan, eksplorasi gas yang dilakukan Pearl Oil di Blok Sebuku yang kini disengketakan antara pemerintah Sulbar dan Kalimantan Selatan (Kalsel) telah berakhir pada 2008. Namun, kata dia, karena banyak prosedur yang harus dilengkapi oleh Pearl Oil, eksploitasi gas baru dapat dilaksanakan pada 2013. "Banyak prosedur yang harus dilengkapi sehingga eksploitasi gas terlambat dilaksanakan di antaranya proses tender, perizinan, pengadaan instalasi dan berbagai fasilitas, sehingga eksploitasi baru dapat dilaksanakan tahun depan," katanya. (T.KR-ACO/S006) COPYRIGHT © 2012 http://makassar.antaranews.com/berita/37082/produksi-gas-sebuku-dijual-ke-pupuk-kaltim

Tuesday, March 13, 2012

Statoil Minta Kapal Nelayan Tak Mendekat

Tuesday, 13 March 2012

MAMUJU– PT Statoil meminta kapal nelayan dan kapal lain yang berlayar tak mendekati kapal jenis GSF miliknya yang sedang melakukan eksplorasi di perairan Mamuju. Jarak aman dari kapal tersebut minimal 500 meter. ”Kapal jenis GSF Explorer ini memiliki alat hisap yang sangat besar.Ukurannya dua kali lebih tinggi dari tinggi pria Eropa sehingga membahayakan para nelayan yang mendekat,” kata General Manager Goverment and Public Affairs PT Statoil Ratna Setia Novanty di Mamuju,kemarin.

Jumlah kapal tersebut ada empat dan hanya melakukan pengeboran untuk mendapatkan minyak dan gas bumi. Saat ini sudah memasuki tahap eksploration drilling. ”Dalam proses ini tidak ada lagi kapal yang bergerak ke luar areal dan pemutusan rumpon seperti sebelumnya. Pada prinsipnya itu tidak mengganggu nelayan,” ungkap dia. Dia mengakui bahwa pada tahap awal dilakukan kegiatan eksplorasi di perairan Mamuju, pihaknya terpaksa memutus rumpon milik nelayan karena menghalangi jalur eksplorasi.

 Namun,pihak Statoil telah memberikan kompensasi atas pemutusan rumpon tersebut. ”Soal ini sudah selesai semua. Tinggal soal kompensasi akibat langkanya ikan ini yang masih perlu dikaji,”katanya. Dari hasil pemotretan awak kapal, sejumlah nelayan tetap beroperasi di dekat kapal milik Statoil dengan jarak yang sudah ditentukan. Berdasarkan foto tersebut, Ratna membantah telah ada pengusiran terhadap kapal nelayan. ”Dari foto itu bisa dilihat, banyak sekali nelayan yang justru berada di dekat kapal kami. Bahkan ada nelayan yang berhasil mendapatkan ikan besar,”ujarnya. Karena itu, dia membantah terjadi pengusiran terhadap kapal nelayan yang mencari ikan di perairan Mamuju. ”Kami hanya meminta nelayan sedikit menjauh hingga radius aman. Sebab kalau terhisap, akan membahayakan nyawa.

Di kapal kami juga ada seorang marinir yang selalu mengawasi kerja para awak.Jadi,kami pun diawasi,”ungkapnya. Seperti diberitakan SINDO, para nelayan Mamuju mengadukan Statoil ke DPRD Sulsel. Dalam laporannya,mereka sulit mendapatkan ikan di perairan Mamuju lantaran keberadaan empat kapal milik Statoil yang sedang melakukan eksplorasi migas di Blok Karama. Akibat eksplorasi tersebut, ikan di perairan Mamuju menjadi jarang. Bahkan, kapal nelayan yang mendekat ke titik eksplorasi diusir awak kapal milik Statoil. Karena itu, para nelayan meminta kompensasi kepada perusahaan migas tersebut. Kontrak kerja Statoil di Blok Karama ditandatangani pada 2007 dengan luas areal 3.212,57 kilometer persegi.

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, Statoil menemukan titik migas sekitar 30 mil laut dari perairan Mamuju. Kepala BP Migas Perwakilan Kalimantan dan Sulawesi Budi Agustyono mengatakan, kapal yang berada di perairan Mamuju adalah milik Statoil. Beberapa di antaranya kapal support yang membawa material. Pemerintah Pusat memang melakukan kontrak kerja sama dengan Statoil.”Jadi saya tegaskan, kapal itu memang milik Statoil yang sudah bekerja sama dengan pemerintah,” papar dia. Kepala Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulbar Agussalim Tamadjoe pun mengaku heran bahwa eksplorasi migas oleh kapal milik Statoil menjadi penyebab kelangkaan ikan. ”Berdasarkan kajian, hal itu tidak mungkin terjadi,” tandas dia.

 Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Mamuju Syamsul Suddin memahami bahwa kegiatan empat kapal milik Statoil tersebut adalah legal.Namun,dia meminta Statoil mengakomodasi keluhan para nelayan Mamuju.”Keluhan nelayan itu tetap perlu diperhatikan. Sebab, ini menyangkut mata pencaharian mereka,”katanya. Kendati demikian, perlu dilihat kebenaran dan akurasinya soal kelangkaan ikan tersebut. Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan kelangkaan ikan.”Sekarang ini memang terjadi pergeseran musim ikan sebagai akibat perubahan cuaca. Sebagai kepala DKP Mamuju, setiap pagi saya selalu berada di tempat pelelangan ikan (TPI) dan memang ikan sangat sedikit. Artinya, ini tetap perlu diperhatikan,” katanya. herman mochtar http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/476879/

Pemprov Jangan Lengah perihal Sengketa Pulau Lere-lerekang

MAMUJU — Upaya Pemprov Kalsel untuk merebut kembali Pulau Lari-larian atau Lere-lerekang dari wilayah kabupaten Majene, Sulbar, belum berhenti.Meski gugatan mereka terhadap Permendagri No 43 tahun 2010, ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta, pada akhirnya tidak dikabulkan. Namun, upaya hukum lain masih ditempuh. Saat ini Pemprov Kalsel dikabarkan tengah melakukan upaya judicial review (uji materil) terhadap keputusan mendagri ke Mahkamah Agung (MA). Menurut Koordinator Gerakan Perlindungan Pulau Terluar Sulbar, Hatta Kainang, terhadap upaya yang dilakukan pihak Kalsel, Pemprov Sulbar tidak boleh leengah sedikit pun. Pemprov dan DPRD Sulbar, DPRD dan Pemkab Majene, Anggota DPR dan DPD RI Dapil Sulbar, mestinya membangun sinergitas kuat untuk melakukan counter terhadap upaya-upaya hukum maupun non hukum yang dilakukan Pemprov Kalsel yang ingin membatalkan Permendagri No 43 tahun 2011 yang menetapkan bahwa Pulau Lere-lerekang merupakan wilayah Kabupaten Majene. Karena, kata Hatta, pulau Lere-lerekang adalah masa depan Sulbar yang patut dijaga dan dipertahankan. Secara ekonomis, Pulau Lere-lerekang memiliki kandungan hidrokarbon merupa minyak dan gas. Sekarang PearlOil tengah melekukan eksplorasi di Blok Sebuku, Lere-lerekang. “Saking besarnya kandungan minyak di sana, PearlOil menyebutnya sebagai lapangan Ruby,” kata Hatta, Selasa 13 Maret. Menurut dia, pulau ini harus dipertahankan dan harus ada upaya konkret dan massive dari pemerintah. Gerakan yang dipimpin Hatta sendiri akan melayangkan legal opinion ke Kemdagri, Mahkamah Agung (MA). Surat ini sebagai pengingat kepada lembaga-lembaga negara itu bahwa Pulau Lere-lerekang tidak bisa diserahkan ke Kalsel. Karena bicara soal aspek kesejarahan dan tata batas wilayah, pulau tersebut memang masuk dalam wilayah Sulbar. Terlebih lagi negara ini sudah mengakui itu dengan lahirnya permendagri. “Satu hal yang kita sukuri, karena upaya hukum yang dilakukan pihak Kalsel di PTUN Jakarta, dengan menggugat keputusan Mendagri, telah ditolak. Tapi masalah barunya adalah proses uji materil di MA yang diajukan Pemprov Kalsel,” segut Hatta. Makanya proses tersebut harus dimonitoring agar MA juga tidak menciderai keputusan Mendagri yang telah menetapkan Pulau Lere-lerekang sebagai bagian dari Sulbar. Jika saja Pulau Lere-lerekang akan diserahkan ke Kalsel, maka tidak menutup kemungkinan Pulau Salisiingan, salah satu pulau di gugusan Kepulauan Balabalakang, juga akan direbut Kalimantan Timur (Kaltim). Karena beberapa waktu lalu, mereka juga ada upaya melakukan itu. (ham) http://www.radar-sulbar.com/mamuju/pemprov-jangan-lengah-perihal-sengketa-pulau-lere-lerekang/

85 Persen Migas "Stat Oil" Disalurkan Pemerintah

Selasa, 13 Maret 2012 09:45 WITA | Sulbar Mamuju (ANTARA News) - Sekitar 85 persen dari hasil produksi minyak dan gas perusahaan asing PT State Oil di Blok Karama Provinsi Sulawesi Barat, akan disalurkan kepada pemerintah Indonesia. "Kalau pengeboran migas di Blok Karama yang dilakukan PT State Oil berhasil dan dilakukan operasi produksi atau eksploitasi, maka 85 persen hasilnya akan diberikan kepada pemerintah di Indonesia,"kata kata Humas PT Stat Oil, Ratna Setya Novianti di Mamuju, Selasa. Ia mengatakan, perusahaan Stat Oil hanya mendapatkan 15 persen dari hasil produksinya, karena itu sudah sesuai aturan yang ada di negara ini sebagai keuntungannya. Menurut dia, dari 85 persen hasil dari produksi migas yang akan diberikan kepada pemerintah akan dibagikan untuk Provinsi Sulbar dan sejumlah Kabupatennya sebagai daerah penghasil migas. Ia mengatakan, PT Stat Oil sejak bulan Januari tahun 2012 telah melakukan pengeboran migas di Blok Karama pada satu pengeborannya dan akan melanjutkan pengeboran pada dua sumur migas lainnya. Menurut dia, Stat Oil yang merupakan perusahaan dari Norwegia sebelumnya telah melakukan kontrak kerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan eksploitasi migas di Blok Karama Provinsi Sulbar dengan luas sekitar 3.212 kilometer persegi, sejak tahun 2007 . Kemudian telah melakukan survey seismic tiga dimensi pada tiga sumur migas yang akan dilaku

Monday, March 12, 2012

Stat Oil akan Ganti Kerusakan Rumpon Nelayan

Selasa, 13 Maret 2012 05:20 WITA | Sulbar Mamuju (ANTARA News) - Perusahaan asing PT Stat Oil dari Norwegia berjanji akan memberikan ganti rugi (kompensasi) apabila ada rumpon (alat penangkap ikan) nelayan yang rusak akibat pengeboran minyak dan gas (Migas) yang dilakukan di perairan Sulawesi Barat. "Semenjak perusahaan Stat Oil melakukan pengeboran migas di perairan Sulbar, tidak pernah melakukan pengrusakan rumpon nelayan," kata Humas PT Stat Oil, Ratna Setya Novianti di Mamuju, Senin. Ia mengatakan, tetapi kalau ternyata di lapangan ada nelayan yang mengaku rumponnya rusak akibat pengeboran migas yang dilakukan Stat Oil, maka perusahaannya akan segera memberikan ganti rugi atau kompensasi. "Kalau ternyata ada nelayan yang mengaku rumponnya rusak akibat pengeboran kami, maka akan segera kami ganti rugi atau memberikan kompensasi," katanya. Menurut dia, perusahaannya yang melakukan ekplorasi di perairan Sulbar yakni di Blok Karama, juga membantah telah melakukan pengusiran nelayan yang melaut menangkap ikan di sekitar areal ekploitasinya seluas 3.212 kilometer persegi. Selain itu, pihaknya juga membantah melakukan kekerasan terhadap nelayan dengan menggunakan aparat keamanan untuk melarang mereka melaut di Perairan Sulawesi sesuai keterangan nelayan yang sebelumnya melakukan aksi unjuk rasa di DPRD Sulbar. "Kami menggunakan teknologi canggih yaitu dengan menggunakan kapal GDF Ekplorer atau kapal yang berfungsi melakukan pengeboran migas, dan kapal itu berbahaya jika ada nelayan yang mendekat jika melakukan pengeboran, jadi kami tidak usir tetapi memperingatkan agar nelayan tidak mendekat pada saat kapal itu melakukan pengeboran karena berbahaya," katanya. Ia mengatakan, kapal yang melakukan pengeboran migas itu hanya melarang nelayan melaut pada jarak 500 meter, selebihnya nelayan dapat melaut menangkap ikan. Sehingga, ia mengatakan, nelayan tetap boleh melaut dan PT Stat Oil tidak pernah melarang sepanjang jaraknya 500 meter dari kapal yang melakukan pengeboran migas karena apabila nelayan mendekat akan berbahaya bagi keselamatannya. Sebelumnya ratusan nelayan di Mamuju melakukan aksi unjuk rasa dengan mendatangi kantor DPRD Sulbar, mereka mengaku dilarang melaut oleh PT Stat Oil yang melakukan pengeboran migas di perairan Sulbar. Selain itu, mereka menuding PT Stat Oil telah membuat mereka kesulitan mencari nafkah sebagai nelayan dan menjadi pengangguran, karena selama kurang lebih empat bulan lamanya para nelayan menganggur karena dilarang menangkap ikan di Perairan Sulbar oleh Stat Oil dengan menggunakan aparat keamanan. (T.KR-MFH/F003) COPYRIGHT © 2012 http://makassar.antaranews.com/berita/37185/stat-oil-akan-ganti-kerusakan-rumpon-nelayan

Api Menyembur di Bekas Galian Batu Bata

POLEWALI--Sebuah fenomena alam berupa semburan api dari dalam tanah, terjadi di Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Polman. Api yang menyembur dari beberapa lubang dalam areal bekas lokasi batu bata, berlangsung sejak beberapa hari lalu, dimanfaatkan oleh sebagian warga untuk memasak. Pemilik lokasi, Rasimin mengisahkan, awalnya terdapat sepuluh titik yang secara terus-menerus menyemburkan gas dan bunga api dalam areal yang sebelumnya ditempati membuat batu bata. Saat sering hujan, titik semburan berkurang hingga saat ini tersisa tiga titik yang tetap mengeluarkan semburan disertai bau menyengat, mirip bau belerang."Awalnya ada sepuluh titik yang mengeluarkan semburan, baunya mirip bau belerang. Setelah sering turun hujan, jumlahnya terus berkurang, "tuturnya, Rabu 29 Februari. Sejak peristiwa tersebut, warga setempat berdatangan dan memanfaatkan semburan gas yang disertai api untuk kebutuhan memasak. Mereka, menyebutnya sebagai berkah. Beberapa ibu rumah tangga, mengatakan cukup terbantu sejak munculnya semburan di lokasi milik Rasmin, karena minyak tanah sangat sulit diperoleh sejak program konversi minyak tanah ke gas elpiji. Rasimin menjelaskan, bahwa areal bekas galian tanah untuk penbuatan batu bata telah ditutup dengan sampah organik, lalu ditimbun dengan tanah pasir sampai satu meter. Entah mengapa, katanya, tiba-tiba muncul semburan gas yang menyengat dan menghasilkan bunga api. (fnn)

BLOK KARAMA: Stat Oil Segera Gelar Pengeboran Sumur Migas Di Sulbar


MAMUJU: Perusahaan minyak dan gas PT Stat Oil segera melakukan pengeboran pada sumur migas kedua untuk mencari migas di Blok Karama Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. “PT Stat Oil telah melakukan pengeboran migas di Blok Karama Perairan Sulbar untuk mencari titik migas, sejak Januari tahun 2012,” kata Humas PT Stat Oil, Ratna Setya Novianti di Mamuju, Selasa. Ia mengatakan, pengeboran migas yang dilakukan Stat Oil telah dilakukan selama 180 hari, dan telah selesai, sehingga Stat Oil akan melakukan pengeboran migas pada sumur bor kedua yang sudah disiapkan. “Pengeboran migas pada sumur kedua yang telah disiapkan Stat Oil akan disosialisasikan pada tanggal 14 Maret tahun 2012, kepada masyarakat dan pemerintah di Sulbar,”katanya. Setelah sosialisasi itu kata dia, akan segera dilaksanakan pengeboran migas pada sumur kedua tersebut dengan menggunakan teknologi canggih yaitu kapal kapal GSF Ekplorer atau kapal yang berfungsi melakukan pengeboran migas. “Kapal itu akan dibantu empat kapal lainnya melakukan pengeboran pada kedalaman maksimun sekitar 3500 meter dibawah permukaan laut,”katanya. Ia mengatakan, untuk pengeboran sumur migas ketiga Stat Oil akan dilaksanakan setelah pengeboran migas pada sumur kedua ini selesai dilaksanakan, dan waktunya belum dapat ditentukan secara pasti. Menurut dia, Stat Oil yang merupakan perusahaan dari Norwegia sebelumnya telah melakukan kontrak kerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan eksploitasi migas di Blok Karama Provinsi Sulbar dengan luas sekitar 3.212 kilometer persegi, sejak tahun 2007 . Kemudian telah melakukan survey seismic tiga dimensi pada tiga sumur migas yang akan dilakukan pengeboran pada tahun 2008, dan pada tahun 2009 telah melakukan ekplorasi drilling untuk memastikan ada migas atau tidak pada sumur yang akan dibor. Sementara kata dia, pada tahun 2010, telah melakukan pengurusan dokumen upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL/UPL), dan pada tahun 2011 telah melakukan sosialisasi untuk melaksanakan pengeboran migas. “Pada tahun 2012 ini dilakukan pengeboran migas maksimun pada kedalaman sekitar 3500 meter dibawah permukaan laut,”katanya. Menurut dia, Stat Oil merupakan perusahaan migas yang memiliki blok migas pada 34 negara dan telah mengelola migas sejak 40 tahun lalu dengan jumlah karyawan yang dimiliki mencapai 20.000 jiwa di seluruh belahan dunia. [antara/roy] http://www.bisnis-kti.com/index.php/2012/03/blok-karama-stat-oil-segera-gelar-pengeboran-sumur-migas-kedua-di-sulbar/

"Stat Oil" Bor Sumur Kedua di Sulbar

Selasa, 13 Maret 2012 09:44 WITA | Sulbar Mamuju (ANTARA News) - Perusahaan minyak dan gas PT Stat Oil segera melakukan pengeboran pada sumur migas kedua untuk mencari migas di Blok Karama Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat. "PT Stat Oil telah melakukan pengeboran migas di Blok Karama Perairan Sulbar untuk mencari titik migas, sejak Januari tahun 2012," kata Humas PT Stat Oil, Ratna Setya Novianti di Mamuju, Selasa. Ia mengatakan, pengeboran migas yang dilakukan Stat Oil telah dilakukan selama 180 hari, dan telah selesai, sehingga Stat Oil akan melakukan pengeboran migas pada sumur bor kedua yang sudah disiapkan. "Pengeboran migas pada sumur kedua yang telah disiapkan Stat Oil akan disosialisasikan pada tanggal 14 Maret tahun 2012, kepada masyarakat dan pemerintah di Sulbar,"katanya. Setelah sosialisasi itu kata dia, akan segera dilaksanakan pengeboran migas pada sumur kedua tersebut dengan menggunakan teknologi canggih yaitu kapal kapal GSF Ekplorer atau kapal yang berfungsi melakukan pengeboran migas. "Kapal itu akan dibantu empat kapal lainnya melakukan pengeboran pada kedalaman maksimun sekitar 3500 meter dibawah permukaan laut,"katanya. Ia mengatakan, untuk pengeboran sumur migas ketiga Stat Oil akan dilaksanakan setelah pengeboran migas pada sumur kedua ini selesai dilaksanakan, dan waktunya belum dapat ditentukan secara pasti. Menurut dia, Stat Oil yang merupakan perusahaan dari Norwegia sebelumnya telah melakukan kontrak kerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan eksploitasi migas di Blok Karama Provinsi Sulbar dengan luas sekitar 3.212 kilometer persegi, sejak tahun 2007 . Kemudian telah melakukan survey seismic tiga dimensi pada tiga sumur migas yang akan dilakukan pengeboran pada tahun 2008, dan pada tahun 2009 telah melakukan ekplorasi drilling untuk memastikan ada migas atau tidak pada sumur yang akan dibor. Sementara kata dia, pada tahun 2010, telah melakukan pengurusan dokumen upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL/UPL), dan pada tahun 2011 telah melakukan sosialisasi untuk melaksanakan pengeboran migas. "Pada tahun 2012 ini dilakukan pengeboran migas maksimun pada kedalaman sekitar 3500 meter dibawah permukaan laut,"katanya. Menurut dia, Stat Oil merupakan perusahaan migas yang memiliki blok migas pada 34 negara dan telah mengelola migas sejak 40 tahun lalu dengan jumlah karyawan yang dimiliki mencapai 20 ribu jiwa diseluruh belahan dunia. (T.KR-MFH/M019) http://makassar.antaranews.com/berita/37186/stat-oil-bor-sumur-kedua-di-sulbar COPYRIGHT © 2012 Read Our Terms Print View

85 persen hasil produksi Stat Oil untuk pemerintah

Selasa, 13 Maret 2012 Mamuju

(ANTARA News) - Sekitar 85 persen dari hasil produksi minyak dan gas perusahaan asing PT Stat Oil di Blok Karama Provinsi Sulawesi Barat, akan diberikan kepada pemerintah. "Kalau pengeboran migas di Blok Karama yang dilakukan PT Stat Oil berhasil dan dilakukan operasi produksi atau eksploitasi, maka 85 persen hasilnya akan diberikan kepada pemerintah di Indonesia," kata Humas PT Stat Oil, Ratna Setya Novianti dalam konfrensi pers di Mamuju, Selasa. Ia mengatakan, perusahaan Stat Oil hanya mendapatkan 15 persen dari hasil produksinya, karena itu sudah sesuai aturan yang ada di negara ini sebagai keuntungannya. Menurut dia, dari 85 persen hasil dari produksi migas yang akan diberikan kepada pemerintah akan dibagikan untuk Provinsi Sulbar dan sejumlah Kabupatennya sebagai daerah penghasil migas. Ia mengatakan, PT Stat Oil sejak bulan Januari tahun 2012 telah melakukan pengeboran migas di Blok Karama dan akan melanjutkan pengeboran kedua sumur migas. Menurut dia, Stat Oil yang merupakan perusahaan Norwegia telah melakukan kontrak kerjasama dengan pemerintah Indonesia untuk melakukan eksploitasi migas di Blok Karama Provinsi Sulbar dengan luas sekitar 3.212 kilometer persegi, sejak tahun 2007 . Kemudian telah melakukan survey seismik tiga dimensi pada tiga sumur migas yang akan dilakukan pengeboran pada tahun 2008, dan pada tahun 2009 telah melakukan ekplorasi drilling untuk memastikan ada migas atau tidak pada sumur yang akan dibor. Sementara kata dia, pada tahun 2010, telah melakukan pengurusan dokumen upaya pengelolaan lingkungan dan upaya pemantauan lingkungan (UKL/UPL), dan pada tahun 2011 telah melakukan sosialisasi untuk melaksanakan pengeboran migas. "Pada tahun 2012 ini dilakukan pengeboran migas maksimun pada kedalaman sekitar 3500 meter di bawah permukaan laut," katanya. Menurut dia, Stat Oil merupakan perusahaan migas yang memiliki blok migas pada 34 negara dan telah mengelola migas sejak 40 tahun lalu dengan jumlah karyawan yang dimiliki mencapai 20 ribu orang di seluruh belahan dunia. (MFH) Editor: B Kunto Wibisono COPYRIGHT © 2012 http://www.antaranews.com/berita/301094/85-persen-hasil-produksi-stat-oil-untuk-pemerintah

Semburan Gas Muncul di Tengah Permukiman Penduduk

Semburan gas bercampur api muncul di sejumlah titik di tengah permukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Madatte, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Semburan ini sudah ditemukan warga sejak enam bulan lalu, tetapi baru beberapa hari belakangan publik mengetahui kabar tersebut melalui pemberitaan media. Semburan gas bercampur api pertama kali muncul di lahan milik Rasimin. Namun, kini, sedikitnya ada delapan titik api yang ditemukan warga menyembur di sekitar lokasi tersebut. Awalnya warga khawatir jika semburan itu akan membahayakan warga. Pasalnya, warga menduga sumber gas yang mengandung api ini tersebar luas di sekitar lokasi meski belum muncul ke permukaan. Namun, belakangan, gas yang terus mengembuskan hawa panas ini mulai dimanfaatkan warga untuk keperluan dapur, antara lain memasak nasi, memasak air, seperti pemandangan yang terlihat pada Jumat (3/2/2012). Hawa panas api yang muncul secara alami di tengah permukiman penduduk ini bahkan dipercaya bersuhu lebih panas daripada elpiji yang kini langka di Polewali. Dengan memasak kebutuhan air atau nasi di atas semburan gas ini, makanan masak lebih cepat. Hal ini telah diuji oleh warga setempat. Rasimin mengatakan, sejak gas alam ini muncul di tanah miliknya, istrinya jarang masak menggunakan minyak tanah ataupun elpiji. Hampir seluruh kebutuhan dapurnya dilakukan di lokasi ini. "Istri saya memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk memasak apa saja keperluan dapur dan ini sangat membantu di tengah kesulitan warga mendapatkan elpiji dan minyak tanah yang mahal," tutur Rasimin. Kepala Dusun Gernas Mahyuddin mengatakan, meski gas alam yang muncul di tengah permukiman penduduk ini sudah lama diketahui warga, tetapi belum ada penelitian instansi terkait asal usul gas. sumber : kompas.com

Kadis Tamben Pantau Lokasi Penemuan Gas

POLEWALI, FAJAR -- Penemuan lubang mengandung gas di lokasi bekas pembuatan batu bata, makin mengherankan. Pasalnya, beberapa titik permukaan tanah yang coba ditusuk, semua mengeluarkan gas dengan bau menyengat dan menghasilkan api. Diberitakan sebelumnya, sebuah fenomena alam berupa semburan api dari dalam tanah, terjadi di Lingkungan Koppe, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Polman. Bekas lokasi pembuatan batu bata itu, berada di pinggir permukiman warga yang berjarak satu kilometer dari kantor Bupati Polman. Penemuan lubang yang mengandung gas sudah beberapa lama dan dilaporkan kepada lurah setempat. Kamis 1 Maret, lokasi milik Rasimin dikunjungi beberapa pihak setelah mengetahui dari berita. Di lokasi bekas pembuatan batu bata sekira 30 x 20 meter, diduga kuat mengandung potensi gas dalam tanah. Beberapa titik pada permukaan tanah yang dicoba ditusuk, semua mengeluarkan bau gas yang menyengat dan menyala saat geretan didekatkan. Radiah, istri Rasimin, pemilik lokasi mengatakan yang diketahui mengeluarkan gas hanya beberapa titik. Awalnya sepuluh titik, lalu berkurang menjadi tiga titik setelah sering turun hujan. Ternyata, beberapa titik yang lain semuanya mengeluarkan gas saat permukaan tanahnya dilubangi. Beberapa ibu rumah tangga, sengaja membawa peralatan dapur seperti panci dan wajan. Seorang tetangga Radiah, menyatakan sangat bersyukur bisa menghemat dengan memasak pada tungku yang sengaja dibuat dengan bahan bakar gas dari dalam tanah. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Mineral Polman, Hamdan Ahmad mengunjungi lokasi tersebut untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Dia mengatakan, sangat mungkin lokasi tersebut terdapat potensi gas, sehingga perlu penelitian secara seksama. Yang harus diwaspadai, katanya, jangan sampai gas yang keluar dari lubang tanah mengandung racun dan membahayakan warga. (mdl/ars) http://www.fajar.co.id/read-20120302204244-kadis-tamben-pantau-lokasi-penemuan-gas

Gas Menyembur dari Permukiman

MAMASA CYBER NEWS – Fenomena semburan gas alam di tengah permukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, sejak tujuh bulan lalu hingga kini masih misterius. Pemerintah Kabupaten Polewali mengaku kesulitan memastikan asal usul dan sumber gas tersebut lantaran saat ini pemerintah setempat tidak memiliki tenaga ahli pertambangan. Untuk memastikan sumber gas alam Manding, Pemerintah Kabupaten Polewali telah membuat surat secara resmi ke Kementerian ESDM agar menurunkan tenaga ahli guna meneliti gas alam yang muncul di tengah permukiman penduduk. Kepala Humas Pemkab Polewali Mandar, Muhammad Daniel, menyatakan, Pemkab Polewali Mandar bersama dinas pertambangan setempat telah melakukan penyelidikan awal terhadap munculnya fenomena alam tersebut. Namun belum bisa dipastikan apakah sumber gas yang menyala itu adalah gas metana dari timbunan sampah atau memang ada sumber gas yang muncul di lokasi milik warga. “Kita belum tahu apakah jenis gas alam ini, makanya kita bersurat ke Kementerian ESDM untuk meneliti di lokasi,” ujar Muhammad Daniel, Minggu (4/3/2012). Daniel berharap, tim ahli akan bisa mendeteksi jenis dan potensi gas di sana. Short URL: http://www.mamasa.info/?p=1463

Gas Menyembur dari Permukiman, Pemda Minta Bantuan

Junaedi | A. Wisnubrata | Minggu, 4 Maret 2012 POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Fenomena semburan gas alam di tengah permukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, sejak tujuh bulan lalu hingga kini masih misterius. Pemerintah Kabupaten Polewali mengaku kesulitan memastikan asal usul dan sumber gas tersebut lantaran saat ini pemerintah setempat tidak memiliki tenaga ahli pertambangan. Untuk memastikan sumber gas alam Manding, Pemerintah Kabupaten Polewali telah membuat surat secara resmi ke Kementerian ESDM agar menurunkan tenaga ahli guna meneliti gas alam yang muncul di tengah permukiman penduduk. Kepala Humas Pemkab Polewali Mandar, Muhammad Daniel, menyatakan, Pemkab Polewali Mandar bersama dinas pertambangan setempat telah melakukan penyelidikan awal terhadap munculnya fenomena alam tersebut. Namun belum bisa dipastikan apakah sumber gas yang menyala itu adalah gas metana dari timbunan sampah atau memang ada sumber gas yang muncul di lokasi milik warga. "Kita belum tahu apakah jenis gas alam ini, makanya kita bersurat ke Kementerian ESDM untuk meneliti di lokasi," ujar Muhammad Daniel, Minggu (4/3/2012). Daniel berharap, tim ahli akan bisa mendeteksi jenis dan potensi gas di sana. http://regional.kompas.com/read/2012/03/04/11272783/Gas.Menyembur.dari.Pemukiman.Pemda.Minta.Bantuan

ESDM kirim tim teliti semburan gas Polman

Selasa, 6 Maret 2012 Mamuju (ANTARA News) - Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral Sulawesi Barat akan segera menerjukan tim untuk meneliti semburan gas di Dusun Gernas, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman). "Dalam waktu dekat akan menurunkan tim untuk melakukan penelitian lebih lanjut," kata Kepala Dinas ESDM Sulbar Agus Salim Tamaudjoe di Mamuju, Selasa. Menurutnya, penilitian perlu dilakukan untuk mengetahui semburan api dari perut bumi yang sempat menggegerkan warga setempat. Ia mengatakan, kemungkinan terjadinya semburan api itu dipengaruhi dua hal yakni akibat pembakaran material sampah yang menghasilkan biogas atau karena karbon oksigen. Jika semburan api karena karbon oksigen maka itu besar potensinya ada cekungan minyak yang terdapat di dasar perut bumi. Namun demikian, kata dia, dirinya tidak yakin jika semburan api itu muncul karena adanya cekungan minyak yang terdapat dalam perut bumi. "Saya lebih curiga itu karena hasil pembakaran sampah sehingga menimbulkan biogas. Apalagi, lokasi ditemukannya semburan api terdapat pada wilayah pembuatan batu bata," ungkap dia. Apalagi kata Agus, lokasi ditemukannya semburan gas ini sama sekali tidak ada dalam peta bahwa daerah itu terdapat potensi minyak dan gas (Migas). Karena itu kata dia, kecil kemungkinan bahwa semburan gas di Polman itu bukan karena mengandung migas. "Kami tidak berkecil hati atas adanya penemuan semburan gas oleh masyarakat di Polman dan akan tetap melakukan kajian secara mendalam apakah semburan ini bisa dikelola menjadi kekayaan daerah atau tidak," katanya. (KR-ACO/S016) Editor: Suryanto COPYRIGHT © 2012 http://www.antaranews.com/berita/300075/esdm-kirim-tim-teliti-semburan-gas-polman

Sumber Gas di Polman Belum Diketahui

Tribun Timur - Sabtu, 3 Maret 2012 POLEWALI MANDAR, TRIBUN-TIMUR.COM- Hingga saat ini, asal usul semburan gas yang muncul di tengah pemukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, belum bisa dipastikan. Wakil Bupati Polewali Mandar, Nadjamuddin Ibrahim mengaku kesulitan untuk memastikan sumber semburan karena tidak memiliki tenaga ahli. "Persoalannya, kita tidak memiliki tenaga ahli dibidang pertambangan untuk memastikan semburan gas ini,"ujar Nadjamuddin, seusai mengunjungi lokasi semburan, Sabtu (3/3/2012). Ia mengungkapkan, sejak awal telah memerintahkan Dinas Pertambangan untuk menyelidiki fenomena alam yang mengejutkan warga ini. Kabag Humas Pemda Polewali Mandar Muh Daniel mengatakan , peristiwa semburan gas alam ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Belum diketahui apakah gas alam yang menyembur dari dalam tanah tersebut mengandung racun. Saat ini, semburan gas itu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan memasak. Menurut warga, semburan gas ini membantu mereka yang tengah mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah dan gas elpiji 3 kilogram. Sebelumnya diberitakan, titik semburan titik bercampur api di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terus bermunculan. Jika sebelumnya hanya ada dua titik semburan gas yang keluar dari dalam perut bumi, kini muncul beberapa titik semburan gas yang berjarak hanya belasan meter dari titik lainnya.(*/tribun-timur.com) Editor : Muh. Irham Sumber : Kompas.com http://makassar.tribunnews.com/2012/03/03/sumber-gas-di-polman-belum-diketahui

Kementrian ESDM Siap Teliti Semburan Gas di Polewali Mandar

Selasa, 6 Maret 2012 Seruu.com - Dinas Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral Sulawesi Barat akan segera menerjukan tim untuk meneliti semburan gas di Dusun Gernas, Kelurahan Madatte, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman). "Dalam waktu dekat akan menurunkan tim untuk melakukan penelitian lebih lanjut," kata Kepala Dinas ESDM Sulbar Agus Salim Tamaudjoe di Mamuju, Selasa (06/3/2012). Menurutnya, penilitian perlu dilakukan untuk mengetahui semburan api dari perut bumi yang sempat menggegerkan warga setempat. Ia mengatakan, kemungkinan terjadinya semburan api itu dipengaruhi dua hal yakni akibat pembakaran material sampah yang menghasilkan biogas atau karena karbon oksigen. Jika semburan api karena karbon oksigen maka itu besar potensinya ada cekungan minyak yang terdapat di dasar perut bumi. Namun demikian, kata dia, dirinya tidak yakin jika semburan api itu muncul karena adanya cekungan minyak yang terdapat dalam perut bumi. "Saya lebih curiga itu karena hasil pembakaran sampah sehingga menimbulkan biogas. Apalagi, lokasi ditemukannya semburan api terdapat pada wilayah pembuatan batu bata," ungkap dia. Apalagi kata Agus, lokasi ditemukannya semburan gas ini sama sekali tidak ada dalam peta bahwa daerah itu terdapat potensi minyak dan gas (Migas). Karena itu kata dia, kecil kemungkinan bahwa semburan gas di Polman itu bukan karena mengandung migas. "Kami tidak berkecil hati atas adanya penemuan semburan gas oleh masyarakat di Polman dan akan tetap melakukan kajian secara mendalam apakah semburan ini bisa dikelola menjadi kekayaan daerah atau tidak," katanya. [ndis] http://www.seruu.com/utama/bisnis-a-pendidikan/artikel/kementrian-esdm-siap-teliti-semburan-gas-di-polewali-mandar

Semburan Gas Di Pemukiman Madatte Polewali Mandar Hebohkan Warga

Polewai, 3 maret 2012. Warga kelurahan Madatte Polewali Mandar Sulawesi Barat dihebohkan dengan adanya semburan gas berapi di salah satu lahan warga. Belasan titik gas yang muncul di halaman belakang rumah warga ini, terjadi sejak enam bulan lalu, dan kini kerap dimanfaatkan warga untuk memasak. Melambungnya harga gas elpiji di kabupaten polewali mandar, rupanya tidak terpengaruh bagi rasimin dan keluarganya. Pasalnya sejak enam bulan lalu, muncul belasan titik semburan gas di lahan samping rumahnya. Merasa tidak membahayakan, keluarga pemilik lahan, kerap memanfaatkan semburan ini untuk memasak. Secara kasat mata, semburan gas nyaris tak terlihat, namun semburan gas ini mengeluarkan hawa yang sangat panas, serta aroma gas metana yang tajam. Hingga kini yang tersisa hanya tiga lubang semburan, setelah belasan titik semburan yang lain telah ditimbun warga, karena dikawatirkan bisa membahayakan. Menurut rasimin, semburan gas ini, merupakan berkah bagi keluarganya. Uap gas yang menurutnya melebihi panas dari api gas elpiji ini, dimanfaatkan untuk memasak, saat persediaan kayu bakar habis. Walau sejauh ini semburan gas, tidak membahayakan, namun warga mengaku cemas, karena dikawatirkan di kemudian hari dapat berdampak buruk, dan dapat terjadi ledakan. Warga berharap pemerintah daerah setempat segera turun tangan dan melakukan langkah penelitian secara ilmiah terhadap adanya semburan gas ini. Edwin. http://makassartv.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=7164&catid=34&Itemid=58

Gas Menyembur dari Permukiman, Pemda Minta Bantuan

Minggu, 4 Maret 2012 POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Fenomena semburan gas alam di tengah permukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, sejak tujuh bulan lalu hingga kini masih misterius. Pemerintah Kabupaten Polewali mengaku kesulitan memastikan asal usul dan sumber gas tersebut lantaran saat ini pemerintah setempat tidak memiliki tenaga ahli pertambangan. Untuk memastikan sumber gas alam Manding, Pemerintah Kabupaten Polewali telah membuat surat secara resmi ke Kementerian ESDM agar menurunkan tenaga ahli guna meneliti gas alam yang muncul di tengah permukiman penduduk. Kepala Humas Pemkab Polewali Mandar, Muhammad Daniel, menyatakan, Pemkab Polewali Mandar bersama dinas pertambangan setempat telah melakukan penyelidikan awal terhadap munculnya fenomena alam tersebut. Namun belum bisa dipastikan apakah sumber gas yang menyala itu adalah gas metana dari timbunan sampah atau memang ada sumber gas yang muncul di lokasi milik warga. “Kita belum tahu apakah jenis gas alam ini, makanya kita bersurat ke Kementerian ESDM untuk meneliti di lokasi,” ujar Muhammad Daniel, Minggu (4/3/2012). Daniel berharap, tim ahli akan bisa mendeteksi jenis dan potensi gas di sana.

Semburan Gas Manding Dimanfaatkan Warga

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Lokasi semburan gas yang menghebohkan warga dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang diberitakan di sejumlah media lokal dan nasional kini mulai ramai dikunjungi warga. Sejumlah warga sengaja datang ke lokasi semburan karena ingin menyaksikan langsung lokasi semburan gas bercampur api yang kini jadi bahan perbincangan di masyarakat Polewali. Wakil Bupati Polewali Mandar, Nadjamuddin Ibrahim bersama rombongan, Jumat (2/3/2012) sore juga mendatangi lokasi semburan gas di lokasi lahan milik Rasimin. Nadjamuddin menyakiskan langsung warga memanfaatkan semburan gas untuk memasak nasi dan air. Hanya dalam tempo beberapa menit, air yang dimasak langsung mendidih. Nadjamuddin menyaksikan langsung bagaimana titik-titik semburan gas yang bercampur api tersebut dimanfaatkan warga untuk keperluan memasak. Kepada wartawan, Nadjamuddin mengatakan belum tahu menahu apakah sumber gas bercampur api tersebut merupakan gas sisa sampah yang terbuang di lokasi atau memang ada semburan gas alami yang muncul dari perut bumi di lokasi ini. Namun menurut Nadjamuddin harus dibuktikan terlebih dahulu melalui penelitian tim ahli. Nadjamuddin berharap semburan gas di lokasi milik warga tersebut adalah gas alam sehingga bisa menjadi aset kekayaan daerah dan negara. "Kita berharap sumber gas ini bisa dikelola sehingga bisa menjadi income bagi daerah dan masyarakat sekitarnya," ujar Nadjamuddin. Semburan gas alam ini sendiri sudah lama dimanfaatkan warga untuk keperluan memasak dan kebutuhan dapur lainnya. "Sejak semburan gas ini muncul tujuh bulan lalu saya sangat terbantu. Saya tak perlu repot cari kayu, minyak tanah atau gas elpiji hanya untuk memasak," ujar Rasimin. Di tengah mahal dan langkanya elpiji 3 kilogram sejak beberapa bulan terakhir, semburan gas di Polewali diakui warga sangat membantu. Sebab tanpa minyak tanah atau gas elpiji 3 kg, warga bisa memanfaatkan semburan gas ini untuk memasak apa saja. Sayangnya tak semua wraga bisa memanfaatkan semburan gas ini untuk keperluan memasak. Warga yang rumahnya jauh dari lokasi mengaku repot jika setiap hari harus mengangkat panci atau peralatan dapur dari rumah ke lokasi semburan gas.

Lokasi Semburan Gas Manding Terus Bermunculan

Junaedi | Laksono Hari W | Sabtu, 3 Maret 2012 POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Titik semburan titik bercampur api di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terus bermunculan. Jika sebelumnya hanya ada dua titik semburan gas yang keluar dari dalam perut bumi, kini muncul beberapa titik semburan gas yang berjarak hanya belasan meter dari titik lainnya. Warga setempat menduga ada potensi titik sembur gas baru di sekitar lokasi semburan gas yang ditemukan warga saat ini. Sejumlah warga yang mencoba menancapkan kayu ke dalam tanah di sekitar lokasi semburan gas dan membakarnya dengan korek gas ternyata muncul api di lubang itu. "Tidak menutup kemungkinan di sekitar lokasi permukiman warga ini juga ada sumber gas lain yang berpotensi dimanfaatkan," kata Sultan, warga setempat. Kabag Humas Polewali Mandar Muh Daniel menyatakan, ia pernah mencoba menancapkan sebatang patok dan mencabutnya kembali. Bekas lubang sedalam 50 sentimeter tersebut ternyata mengandung gas. Ini dibuktikan setelah dibakar dengan korek gas terlihat muncul semburan api. Rasimin, pemilik lahan tempat semburan gas ditemukan di Kelurahan Manding, mengatakan bahwa belasan titik gas di lahannya sebagian telah ditutup karena khawatir sumber api panas tersebut akan semakin menyebar luas di lokasinya. "Saya tutup sebagian semburan gasnya karena terlalu banyak," ujarnya. Sejak kabar temuan semburan gas ini beredar, warga yang penasaran mulai mendatangi lokasi tersebut. Mereka segaja datang sekadar ingin menyaksikan langsung semburan gas itu, sementara lainnya datang untuk memastikan apakah semburan gas tersebut benar-benar ada, seperti yang marak diberitakan media lokal dan nasional.

Heboh, Semburan Gas di Tengah Permukiman

Junaedi | Glori K. Wadrianto | Jumat, 2 Maret 2012 POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Semburan gas bercampur api muncul di sejumlah titik di tengah permukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Madatte, Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Semburan ini sudah ditemukan warga sejak enam bulan lalu, tetapi baru beberapa hari belakangan publik mengetahui kabar tersebut melalui pemberitaan media. Semburan gas bercampur api pertama kali muncul di lahan milik Rasimin. Namun, kini, sedikitnya ada delapan titik api yang ditemukan warga menyembur di sekitar lokasi tersebut. Awalnya warga khawatir jika semburan itu akan membahayakan warga. Pasalnya, warga menduga sumber gas yang mengandung api ini tersebar luas di sekitar lokasi meski belum muncul ke permukaan. Namun, belakangan, gas yang terus mengembuskan hawa panas ini mulai dimanfaatkan warga untuk keperluan dapur, antara lain memasak nasi, memasak air, seperti pemandangan yang terlihat pada Jumat (3/2/2012). Hawa panas api yang muncul secara alami di tengah permukiman penduduk ini bahkan dipercaya bersuhu lebih panas daripada elpiji yang kini langka di Polewali. Dengan memasak kebutuhan air atau nasi di atas semburan gas ini, makanan masak lebih cepat. Hal ini telah diuji oleh warga setempat. Rasimin mengatakan, sejak gas alam ini muncul di tanah miliknya, istrinya jarang masak menggunakan minyak tanah ataupun elpiji. Hampir seluruh kebutuhan dapurnya dilakukan di lokasi ini. "Istri saya memanfaatkannya sebagai bahan bakar untuk memasak apa saja keperluan dapur dan ini sangat membantu di tengah kesulitan warga mendapatkan elpiji dan minyak tanah yang mahal," tutur Rasimin. Kepala Dusun Gernas Mahyuddin mengatakan, meski gas alam yang muncul di tengah permukiman penduduk ini sudah lama diketahui warga, tetapi belum ada penelitian instansi terkait asal usul gas.

Tuesday, March 6, 2012

Sumber Gas di Polman Belum Diketahui

POLEWALI MANDAR, TRIBUN-TIMUR.COM- Hingga saat ini, asal usul semburan gas yang muncul di tengah pemukiman penduduk di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, belum bisa dipastikan. Wakil Bupati Polewali Mandar, Nadjamuddin Ibrahim mengaku kesulitan untuk memastikan sumber semburan karena tidak memiliki tenaga ahli. "Persoalannya, kita tidak memiliki tenaga ahli dibidang pertambangan untuk memastikan semburan gas ini,"ujar Nadjamuddin, seusai mengunjungi lokasi semburan, Sabtu (3/3/2012). Ia mengungkapkan, sejak awal telah memerintahkan Dinas Pertambangan untuk menyelidiki fenomena alam yang mengejutkan warga ini. Kabag Humas Pemda Polewali Mandar Muh Daniel mengatakan , peristiwa semburan gas alam ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah pusat. Belum diketahui apakah gas alam yang menyembur dari dalam tanah tersebut mengandung racun. Saat ini, semburan gas itu dimanfaatkan warga untuk kebutuhan memasak. Menurut warga, semburan gas ini membantu mereka yang tengah mengalami kesulitan mendapatkan minyak tanah dan gas elpiji 3 kilogram. Sebelumnya diberitakan, titik semburan titik bercampur api di Dusun Gernas, Kelurahan Manding, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terus bermunculan. Jika sebelumnya hanya ada dua titik semburan gas yang keluar dari dalam perut bumi, kini muncul beberapa titik semburan gas yang berjarak hanya belasan meter dari titik lainnya.(*/tribun-timur.com) Editor : Muh. Irham Sumber : Kompas.com http://makassar.tribunnews.com/2012/03/03/sumber-gas-di-polman-belum-diketahui