Thursday, February 23, 2012

Mandar Itu Pelaut Ulung

Sebenarnya P. Lerelerekang atau P. Larilariang hanyalah ‘halaman depan’ orang Mandar di laut. Letaknya termasuk dekat dan sepertinya pelaut Mandar bisa “menutup mata” bila mau ke sana dengan menggunakan perahu. Orang Mandar memiliki akar kemaritiman yang kuat dan terangkai ratusan tahun lampau. Pada gilirannya, ada alasan kuat dan ilmiah bahwa semenjak dulu orang Mandar telah melaut, menangkap ikan dan memanfaatkan P. Lerelerekang. Untuk lebih jelas, dalam tulisan ini saya akan membahas sedikit banyak tentang sejarah kemaritiman orang Mandar. A. A. Cense dan H. J. Heeren (1972), mengatakan bahwa pelaut-pelaut Sulawesi Selatan sering berlayar ke Australia Utara yang oleh orang Sulawesi Selatan dinamakan Merege. Nelayan Mandar juga dikenal sebagai nelayan yang menghasilkan beberapa inovasi, sebagaimana ilmuwan perikanan nasional, Subani (1972:7) dalam buku yang berisi hasil-hasil penelitiannya mengenai beberapa alat tangkap di berbagai daerah di nusantara, “… daerah Sulawesi terutama Sulawesi Selatan dan Tenggara adalah termasuk darah jang paling banjak mentjiptakan bentuk2 alat penangkapan. Alat2 jang berasal dari daerah ini umunja tersebar luas diseluruh daerah perikanan terutama Indonesia bagian timur. […] Selandjutnya untuk pantjing disamping pantjing2 biasa, rawai kita kenal pula matjam pantjing seperti: pantjing uloro (line without sinkers), vertikal longline (Bone, Mandar). Untuk djaring insang kita dapati misalnja: lanra antoni, soma antoni, lanra belanak, lanra sangiri, pukat djadjela, pukat sibola dll.nja. Untuk bubu jang merupakan chiri2 chas ialah “bubu hanjut/apung” (drift fish pot) atau biasa disebut “pakadja”. Mengenai rumpon (lure) jang merupakan tjiri chas ialah adanja rumpon Mandar (rumpon chusus untuk laut dalam).” Adapun pelaut (dari etnis) Mandar secara khusus, menurut Pelras, penulis buku The Bugis, “Sebenarnya orang Bugis bukanlah pelaut ulung seperti yang banyak dikatakan orang selama ini. Orang Bugis sebenarnya adalah pedagang. Laut dan kapal hanyalah media atau sarana yang digunakan untuk memperlancar aktivitas perdagangan mereka. Kalau mau menyebut pelaut ulung, maka yang paling tepat adalah orang Mandar.” Horst Liebner yang mengutip pendapat Pires (1944:226-227) mengemukakan alasan mengapa orang Mandar lebih berorientasi ke laut daripada pertanian, “Salah satu di antara suku-suku Sulawesi Selatan yang mencari kehidupannya di laut adalah Suku Mandar yang mendiami pesisir pantai utara Propinsi Sulawesi Selatan [...] kampung-kampung yang dihuni oleh perantau Mandar didapatkan sepanjang pantai Sulawesi bagian barat; di Teluk Bone, bahkan di beberapa pulau di Selat Makassar dan di pantai timur Kalimantan sampai ke ujung utaranya. Oleh karena tanah daerah Mandar tidak subur, maka orang Mandar sejak dahulu berorientasi ke laut.” Bagaimana corak dari inti kebudayaan masyarakat Mandar dapat dilihat dari segi perwatakannya. AJF Eerdmaans seorang orientalis yang menulis buku Het Landschap Balanipa, mendiskripsikan orang Mandar, “Sungguh pun demikian harus diakui bahwa di dalam keadaan-keadaan sulit ia tidak menampakkan sifat-sifat pengecut dan banyak kali menunjukkan bukti-bukti keberanian pribadinya yang mengagungkan. Di dalam peperangan acap kali ia dapat memilih titik-titik yang strategis; sejarah dapat membuktikannya seperti gerakan-gerakan jasmani, naik kuda, berenang, berlayar adalah termasuk hiburan sepanjang hidupnya”. Khusus mengenai jalur-jalur pelayaran oleh orang-orang Mandar dahulu, dapat kita lihat dalam tulisan L. J. J. Caron, yaitu: De Mandarezen toch bevaren meest de route: Mandar – Singapare – Mandar – Borneo en Mandar – Singapore – Mandar – Molukken. Dalam Memorie Leijdst, Assistant Resident van Mandar (1937 – 1940) ditemukan catatan jalur-jalur pelayaran yang ditempuh oleh pelaut-pelaut Mandar (yang berlangsung sampai saat penjajahan Belanda), bukan hanya terbatas sampai Maluku, tetapi bahkan sampai ke Papua Nugini. Selain itu dari keterangan seorang pemuka masyarakat yang bernama Kambo, sebagaimana ditulis Baharuddin Lopa dalam desertasinya (1982), menjelaskan bahwa ia mengingat betul nenek moyangnya sekitar tahun 1850 telah naik haji dengan menggunakan perahu layar dari Mandar. Dari catatan Caron dan Leijdst serta tulisan-tulisan lainnya, dapat diketahui bahwa jalur pelayaran utama para pelaut Mandar mengikuti garis timur-barat, yaitu Mandar – Borneo – Jawa – Sumatera – Singapura ke barat, dan sekembalinya dari Singapura mereka menempuh pula jalur pelayaran ke Ambon, Ternate, Kepulauan Kei, Aru, Tanimbar, Irian dan juga ke Australia Utara untuk menangkap/membeli teripang. Didapati juga jalur-jalur pelayaran utara – selatan, yaitu jalur utara ke pelabuhan di Sulawesi Utara (Donggala – Tolitoli ) sampai ke Philipina. Jalur ke selatan menuju ke Pulau Jawa dan terus ke pulau-pulau di NTB, NTT, dan Timor. Rute-rute tersebut tidak ditetapkan secara kaku tetapi bisa saja berubah, tergantung faktor-faktor ekonomis dan alam. Menurut De Graaf (1949) orang Sulawesi Selatan (termasuk Sulawesi Barat kala itu) sudah melakukan pelayaran dan berlabuh di pulau-pulau di Selat Makassar setidaknya pada tahun 1642. Dalam buku “Menyisir Pantai Utara: Usaha dan Perekonomian Nelayan di Jawa dan Madura 1850 – 1940” karya Masyuri (peneliti LIPI) disebutkan bahwa sejak abad ke-19 nelayan-nelayan dari Sulawesi Selatan telah menjadi pemasok utama ikan asin ke Jawa. Pendapat tersebut sesuai dengan tradisi nelayan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Nelayan Mandar di Sulawesi Barat telah melakukan kebiasaan menangkap ikan di perairan Kalimantan hingga Laut Jawa untuk kemudian dipasarkan dalam bentuk ikan kering. Baik untuk berlindung dari badai atau mendapat air tawar mereka singgah atau berlabuh di pulau-pulau kecil. Beberapa hari lalu (9/11) saya bertanya kepada seorang nelayan tua dari Luwaor (Majene), setelah menangkap ikan di perairan P. Lerelerekang, ikannya dijual ke mana? Jawabnya, “Kita biasa jual ikan di Pasuruan dan Panarukan di Jawa Timur.” Bersambung http://ridwanmandar.com/2011/11/24/mandar-itu-pelaut-ulung/

No comments:

Post a Comment