Tuesday, January 29, 2013

Minim Gas, Statoil-Pertamina Kembalikan Blok Karama

Kamis, 24 Januari 2013, 14:49 WIB




Ladang migas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan asal Norwegia Statoil dan anak usaha PT Pertamina (Persero) Pertamina Hulu Energi memutuskan mengembalikan seluruh wilayah kerja di Blok Karama Selat Makassar, Sulawesi Barat. Kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) itu tak menemukan cadangan migas sama sekali di wilayah tersebut.

Menurut Manager Umum Hubungan Pemerintah dan Humas Statoil Indonesia, Mochamad Tommy Hersyaputera pengeboran di tiga sumur yakni Gatotkaca, Anoman dan Antasena tak membuahkan hasil.

Mochamad Tommy Hersyaputera

"Maka tahap selanjutnya kami mengembalikan wilayah kerja ini ke pemerintah setelah menyelesaikan komitmen yang tertera pada kontrak kerja sama," tegasnya kepada Republika, Kamis (24/1).

Namun ia menuturkan kinerja Statoil sendiri tak terpengaruh karena persoalan ini. Pasalnya, Statoil merupakan operator sumur ekplorasi khususnya di wilayah laut dalam bagian Timur Indonesia dan belum berproduksi.

Lagipula, ujar dia, pihaknya masih bertindak sebagai operator di wilayah kerja Halmahera II Maluku. Tapi diakuinya Statoil dan rekan memang kehilangan dana 271 juta dolar AS atau sekitar Rp 2,611 triliun karena kegagalan eksplorasi ini.

Hal senada juga dikatakan Direktur Utama PHE Salis Aprilian. "Di sana kami tak menemukan minyak maupun gas yang ekonomis untuk diproduksi," katanya.


Salis Aprilian

Sama halnya dengan Statoil, ia pun menegaskan imbas ke PHE tak begitu signifikan. Hanya cadangan baru anak usaha Pertamina itu, sebanyak 10 miliar kaki kubik gas (BSCF), kemungkinan sedikit terganggu.

Sebenarnya Statoil dan PHE mulai mengeksplorasi Blok Karama sejak 2006. Statoil bertindak sebagai operator dengan kepemilikan saham sebesar 51 persen sedangkan PHE sebanyak 49 persen.

Khusus Statoil, perusahaan ini mampu memproduksi minyak sebanyak 2 juta barel per hari (BOPD). Rata-rata minyak di produksi di lapangan Statoil di Norwegia. Sedangkan PHE baru mampu memproduksi minyak hingga 60 ribu BOPD, dari target 2012 sebesar 63 ribu BOPD.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas, Sekuriti dan Formalitas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Hadi Prasetyo menuturkan tak ada penggantian 'cost recovery' dari pemerintah untuk blok tersebut.


 Hadi Prasetyo

"Karena tidak ditemukan cadangan sama sekali, biaya operasi menjadi tanggung jawab operator sepenuhnya," ujarnya.

Berdasarkan data SKK Migas, beberapa pengeboran sumur eksplorasi di Selat Makassar memang tak mendatangkan hasil. Setidaknya terdapat kurang lebih 12 KKKS eksplorasi yang mengembalikan wilayah kerja di area tersebut.

Sebelumnya, KKKS lain seperti Exxon, Marathon dan Tately juga mengalami kegagalan melakukan eksplorasi di Selat Makassar. Exxon gagal di tiga sumur yakni Kris, Kris 1 dan Sultan 1.

Marathon gagal mendapatkan cadangan migas di sumur Bravo, Romeo dan Romeo b-1. Sedangkan Tately gagal mendapat gas di KD1 dan LG1.

Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Sefti Oktarianisa

No comments:

Post a Comment