Wednesday, March 6, 2013

Eksplorasi Migas di Sulbar Nihil

Jumat, 25 Januari 2013
Blok Karama Dikembalikan ke Pemprov Sulbar

JAKARTA, FAJAR -- Karena tidak mengandung cadangan minyak dan gas (migas), Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKSS) asal Norwegia, Statoil dan anak usaha PT Pertamina (Persero) Pertamina Hulu Energi, memutuskan mengembalikan seluruh wilayah kerja di Blok Karama Selat Makassar, Sulawesi Barat.

Manager Umum Hubungan Pemerintah dan Humas Statoil Indonesia, Mochamad Tommy Hersyaputera, Kamis, 24 Januari mengungkapkan, pengeboran di tiga sumur yakni Gatotkaca, Anoman dan Antasena tak membuahkan hasil.

"Maka tahap selanjutnya kami mengembalikan wilayah kerja ini ke pemerintah setelah menyelesaikan komitmen yang tertera pada kontrak kerja sama," ungkapnya.

Karena kegagalan eksplorasi ini, Statoil dan rekan kehilangan dana USD271 juta atau sekitar Rp2,611 triliun. Namun, ia menuturkan kinerja Statoil sendiri tak terpengaruh karena persoalan ini. Pasalnya, Statoil merupakan operator sumur eksplorasi khususnya di wilayah laut dalam bagian Timur Indonesia dan belum berproduksi.

"Lagi pula, kami masih bertindak sebagai operator di wilayah kerja Halmahera II Maluku," ungkapnya.

Direktur Utama Pertamina Hulu Energi, Salis Aprilian menambahkan, di Blok Karama, pihaknya tak menemukan minyak maupun gas yang ekonomis untuk diproduksi. "Imbasnya tak terlalu signifikan ke PHE. Hanya cadangan baru anak usaha Pertamina itu, sebanyak 10 miliar kaki kubik gas (BSCF), kemungkinan sedikit terganggu," ungkapnya.

Statoil dan PHE memulai eksplorasi Blok Karama sejak 2006. Statoil bertindak sebagai operator dengan kepemilikan saham sebesar 51 persen, mampu memproduksi minyak sebanyak 2 juta barel per hari (BOPD). Rata-rata minyak di produksi di lapangan Statoil di Norwegia. Sedangkan PHE sebanyak 49 persen, baru mampu memproduksi minyak hingga 60 ribu BOPD, dari target 2012 sebesar 63 ribu BOPD. (asw/pap)

No comments:

Post a Comment